Catatan Kecil untuk Orang ‘Tinggi’

Saya menulis tulisan ini ketika sedang terduduk bosan di sebuah bangku kosong koridor rumah sakit. Seorang bapak setengah baya terlihat sedang mengepel di sepanjang lantai koridor. Saya refleks melepas sepatu, lalu terus memperhatikan Si Bapak yang menggerak-gerakkan gagang pel sambil sesekali mengelap peluh. Saya tidak tahu itu koridor keberapa yang dibersihkan pagi ini.

Saya terkesiap saat beberapa orang berseragam putih melenggang dengan santainya. Si Bapak  bahkan belum menyelesaikan pekerjaaannya. Lantai itu bahkan masih BASAH! Kalaupun mereka sedang terburu-buru, tak bisakah mereka mencopot alas kaki lebih dulu? Saya tiba-tiba ingin menyeru “Lantainya masih basah! Jalannya dari bawah aja, Nak.” Tapi kemudian tersadar, saya sedang tidak berada di sekolah. Saya sedang di tempat yang asing. Tempat yang sepertinya sangat mementingkan status sosial. Di saat tulisan “Stop Alas Kaki” ada dimana-mana, orang-orang penting berstatus ‘tinggi’ bahkan tidak melepas hak tinggi mereka. Tempat yang katanya bebas kuman penyakit, tapi sampah masih terlihat dimana-mana. Tadi ketika berjalan menuju koridor ini, saya memungut sampah  yang berceceran, berjalan mengitari koridor walaupun jaraknya agak jauh agar tidak menginjak rumput. Beberapa orang mungkin memperhatikan, lagi-lagi saya tersadar, saya tidak sedang berada di sekolah. Ah, ternyata budaya sekolah kami sudah berhasil mendikte otak saya dengan baik.

Sekolah kami mendidik anak-anak untuk menghormati cleaning service. Kami tidak diizinkan berjalan melewati lobby sebelum pukul 9 pagi, juga lantai lainnya jika masih basah. Kami tidak diizinkan untuk menginjak rumput dan tanaman lainnya. Anak-anak kami juga diwajibkan mengikuti GPS (Gerakan Pungut Sampah) di sekolah. Hal sederhana lainnya, anak-anak kami melepas sepatu dan menyusunnya dengan rapi sebelum masuk ke kelas.

Pendidikan berharga seperti itu tidak akan mereka dapatkan di perguruan tinggi yang cenderung menghasilkan orang ‘tinggi’.  Anak-anak kami mungkin tidak semuanya bisa menjadi dokter, tetapi hal-hal sederhana yang terbiasa mereka lakukan di sekolah, akan sangat membantu pembentukan karakter mereka. Insha Allah.

final_attitude_logo_small3

Advertisements

Kondisi Hati: Sedikit Pusing

Suara-suara itu terdengar lagi.

“Dek, model baju gini bagus gak?”

“Kak Ii udah setuju mau cari kain warna ijo aja, tapi takutnya nanti gak cocok sama kak uu.”

“Atau kita jahitnya di tempat Kakak Mariah Carey aja ya? Agak mahal sih tapi rapi.”

“Nanti pelaminannya pesan sama Kak Alice aja.”

“Undangan scan aja ntar dibagiin via sosmed.”

“Dokumentasi? Tenaaaang, ada Bro Adam Lavine, dikasih diskon kok.”

Haruskah saya pasang wajah polos lagi? “Saya belum cukup umur.”

Saya hanya sedikit jenuh diserang kanan-kiri. Lelah, tapi gak butuh istirahat. Merasa lemah tapi gak butuh supply vitamin, hemaviton, cerebrovit, asam mefenamat, porstex, atau jenis obat kuat lainnya. Beraaaat rasanya, tapi masih sanggup jalan sendiri biarpun kadang-kadang agak miring. Hati Pusing,

Gak Bisa Fokus

Saya lagi gak becanda. Iya, serius. Terkadang saya mikir deh. Sekarang juga lagi mikir. Gimana caranya saya bisa fokus menulis. Bisa gak kalau hanya mengeluarkan apa yang ada di kepala tanpa harus fokus? Bisa gak kalau hanya membiasakan diri dengan aktivitas menulis random tanpa harus fokus? (Menulis random: menulis dengan kelingking atau jempol misalnya.)

Saya tidak suka sama kegiatan yang memaksa saya selama berjam-jam hanya untuk fokus. Oleh karena itu, saya gak bisa fokus nulis. Tapi jika memang fokus itu wajib selama menulis, pastinya saya sudah gak fokus. Kalaupun saya berhasil fokus, berarti saya sudah wajib menulis. Tentunya setelah membaca tulisan ini, saya menyadari betapa randomnya saya -__- Saya bahkan gak mengerti dengan apa yang saya tulis.

Saya udah bilang tadi kan? Saya ini gak bisa fokus. -____________-

Beauty Awakens the Soul

Siapa bilang outer beauty itu tidak penting? Bagi saya, yang menghabiskan sebagian besar waktu dengan anak-anak, outer beauty tidak kalah pentingnya dengan inner beauty, karena saya harus selalu bisa menarik perhatian mereka.

Anak-anak itu gampang bosan. Jadi untuk membuat mereka betah, pintar aja gak cukup, baik aja gak cukup, tapi guru juga perlu tampil menarik. Tampil menarik juga tidak selalu berarti cantik. Cukup terlihat bersih, rapi, dan wangi.

Saya tidak melarang anak-anak yang ngelendot ke saya. Saya malah senang ketika mereka meluk-meluk trus bilang “Ibu wangiiiiii.”

Trus ketika tiba-tiba mereka mencium pipi saya dengan gemas sambil bilang, “Mau ambil bedak ibu.”

Juga ketika mendengar pujian tulus mereka, “Ibu cantik hari ini.” (Ingat, anak-anak gak pake modus)

Bukankah hal-hal kecil seperti itu membuat kita lebih bersemangat di kelas? Seperti kata Dante Alighieri, “Beauty awakens the soul to act.”

Terinspirasi dari percakapan singkat tadi pagi.

C360_2015-06-21-08-08-59-179

Harus Bagaimana Agar Tidak Jatuh Cinta?

Sayang, aku mulai khawatir setiap harinya.

Bagaimana jika aku jatuh cinta, sementara ikatan suci itu belum ada.

Bagaimana jika aku tak bisa mengendalikan rasa, kemudian kembali menggores luka.

Bagaimana jika aku semakin tenggelam dalam asa, menggenggam harapan untuk bersama.

Karena aku pernah berandai, Sayang. Jatuh cinta tidak akan semudah ini.

Pernah berusaha sekuat tenaga membentengi hati.

Pernah memasang keset berduri di setiap langkah kaki.

Agar aku tidak lupa, lagi: bagaimana perihnya jatuh hati.

Late Post, May 2015.

Mengenalmu dengan Sederhana

Saat ini, ada masih begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab..

Aku bertanya-tanya, jika kuperkenankan, akankah kamu bisa menjaga hatiku dengan baik?

Apakah perkenalan kita ini adalah ketukan takdir?

Relakah kamu, jika aku yang Allah percayakan untuk menjadi zaujatimu kelak?

Karena sejujurnya, aku hanya ingin mengenalmu dengan sederhana.

Tanpa banyak kata yang berujung dusta.

Karena jika memang Allah ridha, segala keresahan hati ini akan dihapuskan…

Sungguh aku berharap, kamu adalah dia yang Allah takdirkan untukku…

Late Post, December 2014.

.41015b72248fc2283adff3afa7f5e658

You Are Productive!!!

I am a teacher and nothing I can do besides teaching.

How to CHANGE the mindset? Why always feel like nothing to do? Now DELETE those thoughts. You are productive, you are productive, you can be more productive. Please, trust yourself.